Mengenai Saya

I'm cheerful, I don't like somebody else pushes me to do something that I don't like. somebody else who force their desire to me. come on everyone was created as unique human and different each other. Make beautiful diversity.

Senin, 18 Februari 2013

Bumi Ini Bagai SeTitik Debu

Bumi Ini Bagai SeTitik Debu


Bumi ini bagai setitik debu, membaca kata-kata ini pada salah satu jejaring sosial membuatku berpikir betapa sangat kecilnya manusia di alam semesta ini. Kalau Bumi yang menjadi tempat manusia tinggal, menjadi satu-satunya rumah manusia hingga sekarang saja seperti debu, lalu bagaimana dengan manusianya? Berapa pula ukuran debu itu? Debu saja tidak terlihat kasat mata, lalu bagaimana dengan materi yang ada di dalamnya? apakah bisa terlihat? Tentu Tidak kecuali sang Pencipta.



Meskipun sudah seperti itu, tetap saja yang namanya manusia belum juga menyadari kesombongan mereka selama hidup di dunia. Seolah-olah mereka lupa aka jati diri mereka sebagai khalifah di muka bumi ini. yang dipercaya menjaga, merawat, dan memperbaik kerusakan masa lalu justru membuat kerusakan yang lebih parah dari orang-orang masa dahulu. Apakah benar generasi penerus masa yang akan datang harus selalu mengalami degradasi baik moral maupun akal?

Akal dan pikiran yang membuat manusia lebih tinggi dan sempurna dari makhluk lain. Hanya karena nafsu sesaat bisa menghancurkan segala yang dibangun oleh akal dan pikiran kita. Nafsu untuk selalu berusaha lebih "WOW" dari orang lain membuat manusia menjadi manusia rakus, tamak, dan sombong rata-rata. bagaimanapun juga, ini bukan kehidupan abadi, buat apa melakkan hal-hal tidak berguna macam orang bodoh saja? kita sebagai manusia biasa saja sudah tak terlihat apalagi manusia luar biasa tingkat rendah? semakin segera menghilanglah kita dari kehidupan ini.

Tidak seharusnya kita berlaku sombong, karena kita bukan apa-apa. Kita tidak lain dan tidak bukan lebih kecil dari pada debu. Lebih tidak berarti. Lalu apa yang bisa kita sombongkan? Memamerkan kelebihan yang dimiliki hanya akan membuat diri mereka menjadi orang yang tak berharga, karena tak ada yang mau menghargai kelebihan yanga dia miliki jika dia tidak berkoar, lalu menganggap yang lain rendah. 

Rabu, 06 Februari 2013


WE WALK TOGETHER

Indonesia adalah negara maritim dan agraris, yang saat ini setelah lebih dari  60 tahun kemerdekaannya masih menjadi negara berkembang dan terus merangkak belum berjalan untuk keluar dari yang namanya jerat kemiskinan. Untuk keluar dari lingkaran kemiskinan yang hingga saat ini masih banyak dialami penduduk Indonesia, maka dibutuhkan banyak sekali terobosan baru dan pelatihan-pelatihan untuk melatih kemandirian penduduk.Yang terpenting adalah bagaimana mengubah cara pandang dan berpikir penduduk Indonesia itu sendiri. Mengubah pemikiran mereka dari bagaimana mencari pekerjaan diganti dengan bagaimana caranya membuat lapangan pekerjaan. Pertambahan penduduk yang terjadi saat ini kurang efektif jika hanya berusaha menarik investor untuk membuka lapangan pekerjaan di Indonesia agar dapat menyerap tenaga kerja dari Indonesia. Karena jumlah penduduknya yang terlalu banyak, yang ada justru akan menimbulkan masalah baru terutama masalah lingkungan. Sebab investor asing melihat Indonesia sebagai ladang penghasil kekayaan alam. Maka habislah kekayaan alam Indonesia dikuras habis oleh pihak asing dan penduduk Indonesia tidak kaya-kaya, padahal mereka adalah pemilik kekayaan sebenarnya.

Memberikan pelatihan-pelatihan atau pun bekal kepada semua warga negara suatu keterampilan yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Misal, pelatihan menjahit, membuat kerajinan tangan, pelatihan menjadi wirausaha, dan masih banyak lagi. Dimana kualitas dari hasil karya anak negeri tersebut tidak kalah dengan kualitas dari barang-barang di luar negeri. Sehingga, Indonesia juga dikenal sebagai negara pengekspor barang berkualitas. Ada masalah lagi dengan orang Indonesia, mereka senang mengoleksi barang-barang buatan luar negeri padahal barang buatan dalam negeri lebih bagus. Ini juga yang harus dipikirkan, yang dari tingkat atas seperti pejabat tinggi negara memberikan contoh NYATA menggunakan produk dalam negeri bukan justru membanggakan produk negeri orang. Yang kemudian diwajibkan kepada semua instansi pemerintahan, sehingga bisa diikuti oleh semua penduduk. 

Selain itu, dibutuhkan pula pemikir dan pelaksana perencana beberapa tahun yang akan datang dan pembangunan.Semua bidang disiplin ilmu dibutuhkan, karena tidak ada disiplin ilmu yang dapat bekerja sendiri. Kerjasama antar bidang disiplin ilmu inilah yang harusnya dilakukan oleh setiap instansi atau lembaga yang ingin membangun suatu negara. Koordinasi sangatlah dibutuhkan, sehingga bisa membuat suatu kebijakan yang melihat dari berbagai sudut pandang tidak hanya terpaku pada satu sudut pandang yang biasanya bisa menyelesaikan satu masalah tetapi menimbulkan masalah baru yang tak kalah hebat. Oleh karena itu, dibutuhkan kerjasama untuk saling bertukar pikiran antar ahli. 

Negeri ini memiliki banyak sekali orang pintar di bidangnya, tetapi sepintar apapun mereka, mereka tidak dapat bekerja sendiri menyelesaikan permasalahan Indonesia.