Mengenai Saya

I'm cheerful, I don't like somebody else pushes me to do something that I don't like. somebody else who force their desire to me. come on everyone was created as unique human and different each other. Make beautiful diversity.

Jumat, 26 Agustus 2016

Kenangan 1

Langit senja, yang tak kulihat senjanya. Hanya awan biru, mengabu, dan mulai gelap tanpa cahaya
Burung - burung yang terbang kesana - kemari tanpa kudengar riuhnya. Atau angin - angin yang membelai - belai bendera - bendera yang terpasang di setiap jalan. Pemandangan sore ini, yang jarang aku rasakan. Empat Tahun sudah aku belajar disini, tapi, aku belum pernah benar - benar merasakan perpustakaan kampusku ini. Yang aku khawatirkan, tak akan kurindukan nantinya, karena tak pernah kuberikan kenanganku disini.

Kenangan? bagaimana bisa aku memberikan kenangan? Nyatanya kenangan itu tercipta tanpa sengaja. Kenangan adalah jalan cerita yang memang sudah Allah takdirkan untuk hamba - hamba-Nya. Lalu, bagaimana aku bisa memberikan kenangan untuk tempat ini? Selain, ingatan - ingtan bahwa aku menyendiri disini karena ingin lari dari kenyataan. Kenyataan yang terasa jika aku tetap tinggal dimana aku tinggal.

Akankah, tempat ini adalah kenangan pelarianku?

Melepaskan atau Berjuang?

Pertama kali diterima sebagai siswi SMAN 1 Sragen, tujuh tahun yang lalu. Saat itu, tak ada perguruan tinggi lain dalam otakku selain FTSL-ITB, karena ingin mengikuti jejak idolaku waktu kecil, B.J. Habibie. Tetapi, agak berbeda dari beliau, karena beliau mengambil Jurusan Teknik Mesin yang berhubungan dengan pesawat, sedangkan aku pada bangunan. Allah pun berkata lain, ridho Allah itu ridho orang tua, maka untuk mendapatkan ridho itupun aku memutuskan melanjutkan pendidikanku di kota pelajar, di kampus biru yang dikenal sebagai kampus kerakyatan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sebab, ibu hanya memberikan tiga pilihan kota untukku, Solo, Jogja, atau Semarang yang notabene dekat dengan rumah?  Alhamdulilah, saya bahagia diterima kampus pancasila ini, sebab banyak teman saya yang diterima disini. Akan tetapi, ada rasa sedih juga, karena saya harus melepas mimpi yang saya miliki tanpa pernah mencoba. Sampai hari ini, itu yang selalu saya sesalkan, "Melepas Mimpi Tanpa Pernah Mencoba". 

Saat ini, pada tahun - tahun terakhir masaku sebagai mahasiswi di kampus pancasila ini, dilema yang memang harus aku hadapi, bukan lagi masalah ridho orang tua takut berada jauh dari anaknya, tetapi menghadapi realita dan impian. Disaat mereka tidak mempercayai impianku (a.k.a. meremehkan). Seperti mereka tidak percaya bahwa air mengalir dari ke bawah ke atas. Akankah, aku kembali melepas impianku seperti dulu, ataukah aku mengambil jalan lain dan menerima kenyataan? Dan kenyataan, bahwa kedua orang tuaku semakin tua dan membutuhkanku. Hidup itu memang pilihan. Pilihan itulah yang akan menentukan perjalanan kita selanjutnya. Dan tak ada yang mudah dari dua pilihan tersebut, kedua - duanya tetap akan memberikan perjalanan yang penuh dengan perjuangan, kerja keras, dan selalu belajar. 


Maka Allah lah sebaik - baiknya tempat kembali. Memohon petunjuknya, meminta dengan sholat dan sabar.