Mengenai Saya

I'm cheerful, I don't like somebody else pushes me to do something that I don't like. somebody else who force their desire to me. come on everyone was created as unique human and different each other. Make beautiful diversity.

Selasa, 09 Mei 2017

Stressful

Hal yang selalu kutakutkan pun tiba, "Menjadi Dewasa". Anak kecil, ceria, lincah, aktif dan manja, mungkin itulah diriku dahulu, pun sekarang. Setua apapun pertambahan angka untuk usiaku, setinggi apapun pertumbuhan tinggi badanku setiap hari, aku tetaplah anak perempuan ayah dan ibu yang manja. Aku yang senang berbuat sesuka hatiku, melakukan banyak hal, berlari kesana kemari, tertawa, melompat, memanjat, dan masih banyak lagi. Dahulu, aku memiliki begitu banyak kebebasan dalam hidupku, perlahan segala kebebasan itu berkurang satu per satu. Satu per satu kebebasan itu telah berubah menjadi pekerjaan yang diwajibkan.

Orang tuaku sangatlah memperhatikan pendidikan putri-putrinya. Mereka selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kami. Tanpa sadar kamipun menjadi anak-anak yang mengejar peringkat kelas dan angka pada kertas laporan hasil belajar. Masih sangat jelas dalam memoriku, ketika aku duduk di bangku kelas 2 SD, aku berada di peringkat kedua setelah temanku. Kedua orang tuaku memarahiku, kakakku pun demikian. Aku dilarang untuk bermain bersama teman-temanku. Aku dipaksa pulang dan tidak diperbolehkan keluar rumah. Sejujurnya dulu aku sangat membencinya. I love play. I like to go outside and enjoy any thing around me. Dan setealah aku memasuki masa SMP dan SMA, bahkan di Perguruan Tinggi tetaplah sama. Aku bukanlah siswi cerdas, pandai ataupun pintar sekalipun. Saat SMA aku berusaha keras untuk mendapatkan peringkat dan nilai yang bagus. AKu belajar, belajar, dan belajar ketika di rumah sangat serius. Untuk apa? Untuk membeli kebebasan. Aku iri pada temanku, dimana orang tuanya justru menyuruh dia mengikuti kegiatan - kegiatan sekolah, sedangkan yang dia inginkan belajar di rumah. Berbalik 180 derajad denganku, aku ingin melakukan banyak hal di kegiatan sekolah, tetapi orang tua menginginkan aku belajar di rumah. So, I buy my desire. Jadi, motivasi belajar ketika di SMA selain ingin diterima di ITB juga karena ingin bermain.

Ketika kuliah, orang tua tidak suka aku mengikuti kegiatan kampus, kerja part-time, lomba PKM, dan sebagainya. Pasti yang ditanya "Kamu dapat apa?". When you have totally different view with your parents, it is hard to explain them the correlation between what do you want and what are you doing now. Because I don't want to have any fight, so I ended up silence. Aku mungkin bukanlah orang yang baik, tapi aku paham ilmu agama tentang orang tua. Aku tidak mau durhaka kepada mereka. I just wanna tell what is my opinion, what do I want to, but it always fail. What I hate the most is, they always see something from material, money, positions. Even though they said "No" but their act is "Yes".

Aku selalu bertanya, "kenapa setiap pekerjaan yang aku lakukan perihal hobiku tidak berjalan dengan baik?" Baik organisasi, lomba, dan sebagainya. Dahulu aku berpikir, usahaku kurang keras. Tetapi, kegagalan-kegagalan itu terjadi bukan karena suatu usaha, melainkan sesuatu yang tidak pernah bisa kita prediksikan sebelumnya. Saya sadar ada doa orang tua yang ikut campur. Meskipun orang tua selalu mengatakan "iya selalu didoakan", mereka tidak sepenuhnya. Ada keraguan dalam doa dan hati mereka. Mereka tidak sepenuhnya rela aku mengerjakan ini, itu. Berkali-kali ketika masih di bangku kuliah, aku mencoba untuk mendaftar pertukaran mahasiswa, tapi selalu gagal dalam proses pendaftaran. Pertama, saat saya mendaftar untuk melaksanakan tes TOEFL-ITP, saat waktu tes saya yang sudah ditetapkan tiba, nama saya justru tidak ada dalam daftar peserta tes. Padahal tes hanya diadakan 2 minggu sekali, dan 2 minggu kemudian hasil tes baru diberikan. Jika, namaku terdaftar pada tes pertama aku masih memiliki kesempatan mendaftar sebelum deadline. Tetapi, karena aku tidak dapat melaksanakan tes hari itu maka deadline sudah terlewat. Kedua, saya harus memilih antara mengikuti UAS salah satu mata kuliah wajib atau mengikuti tes wawancara untuk pertukaran mahasiswa (padahal diinformasikan di awal bahwa wawancaranya akan dilakukan siang hari). Ketiga, UUD (Ujung-ujungnya duit). Takdir banget kan. I tell this, it doesn't mean that I blame God with anything happen to me. I just said that this the way of my destiny. My failure now is not fully from my work, but there is still destine works on it. Just Say,"Inshaa Allah ini adalah yang terbaik". Sambil mengikhlaskan hati.

Actually, i do not agree with my parents method to raise me in terms of education, position, and prosperity. Yet, I absolutely support how they train me to live simply and hard work for everything you want to gain. FYI, I bought my wardrobe in my room now was by my own money when I was in elementary school.


Yogyakarta, 10 Mei 2017

Jumat, 26 Agustus 2016

Kenangan 1

Langit senja, yang tak kulihat senjanya. Hanya awan biru, mengabu, dan mulai gelap tanpa cahaya
Burung - burung yang terbang kesana - kemari tanpa kudengar riuhnya. Atau angin - angin yang membelai - belai bendera - bendera yang terpasang di setiap jalan. Pemandangan sore ini, yang jarang aku rasakan. Empat Tahun sudah aku belajar disini, tapi, aku belum pernah benar - benar merasakan perpustakaan kampusku ini. Yang aku khawatirkan, tak akan kurindukan nantinya, karena tak pernah kuberikan kenanganku disini.

Kenangan? bagaimana bisa aku memberikan kenangan? Nyatanya kenangan itu tercipta tanpa sengaja. Kenangan adalah jalan cerita yang memang sudah Allah takdirkan untuk hamba - hamba-Nya. Lalu, bagaimana aku bisa memberikan kenangan untuk tempat ini? Selain, ingatan - ingtan bahwa aku menyendiri disini karena ingin lari dari kenyataan. Kenyataan yang terasa jika aku tetap tinggal dimana aku tinggal.

Akankah, tempat ini adalah kenangan pelarianku?

Melepaskan atau Berjuang?

Pertama kali diterima sebagai siswi SMAN 1 Sragen, tujuh tahun yang lalu. Saat itu, tak ada perguruan tinggi lain dalam otakku selain FTSL-ITB, karena ingin mengikuti jejak idolaku waktu kecil, B.J. Habibie. Tetapi, agak berbeda dari beliau, karena beliau mengambil Jurusan Teknik Mesin yang berhubungan dengan pesawat, sedangkan aku pada bangunan. Allah pun berkata lain, ridho Allah itu ridho orang tua, maka untuk mendapatkan ridho itupun aku memutuskan melanjutkan pendidikanku di kota pelajar, di kampus biru yang dikenal sebagai kampus kerakyatan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sebab, ibu hanya memberikan tiga pilihan kota untukku, Solo, Jogja, atau Semarang yang notabene dekat dengan rumah?  Alhamdulilah, saya bahagia diterima kampus pancasila ini, sebab banyak teman saya yang diterima disini. Akan tetapi, ada rasa sedih juga, karena saya harus melepas mimpi yang saya miliki tanpa pernah mencoba. Sampai hari ini, itu yang selalu saya sesalkan, "Melepas Mimpi Tanpa Pernah Mencoba". 

Saat ini, pada tahun - tahun terakhir masaku sebagai mahasiswi di kampus pancasila ini, dilema yang memang harus aku hadapi, bukan lagi masalah ridho orang tua takut berada jauh dari anaknya, tetapi menghadapi realita dan impian. Disaat mereka tidak mempercayai impianku (a.k.a. meremehkan). Seperti mereka tidak percaya bahwa air mengalir dari ke bawah ke atas. Akankah, aku kembali melepas impianku seperti dulu, ataukah aku mengambil jalan lain dan menerima kenyataan? Dan kenyataan, bahwa kedua orang tuaku semakin tua dan membutuhkanku. Hidup itu memang pilihan. Pilihan itulah yang akan menentukan perjalanan kita selanjutnya. Dan tak ada yang mudah dari dua pilihan tersebut, kedua - duanya tetap akan memberikan perjalanan yang penuh dengan perjuangan, kerja keras, dan selalu belajar. 


Maka Allah lah sebaik - baiknya tempat kembali. Memohon petunjuknya, meminta dengan sholat dan sabar.

Rabu, 16 Desember 2015

Terima Kasih

Tidak ada banyak kata yang bisa kuucapkan selain dua kata, " Terima Kasih". Iya, terima kasih atas segalanya.  Terima kasih karena masih bersikap baik padaku. Terima kasih telah kembali tersenyum. Terima kasih karena kamu masih menerimaku dan menganggapku sebagai temanmu. Teman, teman yang telah lama tak berjumpa, teman yang kian hari semakin berjarak, berjarak, berjarak hingga tak terlihat. Iya, kita tak saling bertatap, tak saling lagi menyapa. Mungkin karena memang kita bukanlah teman dekat. Kamu datang sebagai orang asing yang tak pernah kukira dan kau pergi kembali asing seperti yang kukira. Iya itulah kita, teman.

Dan saat kita bertemu kembali yang ada hanyalah kekakuan. Kekakuan yang tak kumengerti dan tak terhindarkan. Banyak kata ingin terucap, tapi, berakhir dengan kesunyian. kesunyian yang kita ciptakan di tengah rintik hujan. Aku pun memilih untuk diam, hingga kamu memulai percakapan ringan.

Terima kasih karena pernah singgah dalam cerita hidupku. Mewarnai kisah-kisah yang tak terkenang ini. Semoga di pertemuan selanjutnya kita bisa menjadi teman yang lebih baik dan lebih dekat.



Selasa, 02 Juni 2015

Persimpangan

Hidup. Iya, benar adanya saat ini kau hidup. Kau hidup di dunia yang tak pernah kau tahu waktu berakhirnya. Iya, benar, benar adanya kau akan hidup di dunia lain yang sudah Dia janjikan untukmu. Persimpangan. Persimpangan ini baik, menurut logika mereka. Apapun yang akan dipilih daripada persimpangan itu hasilnya akan baik. 

Persimpangan ini semakin terasa saat sahabat - sahabatmu sudah memiliki jalannya masing-masing. Persimpangan yang dahulu sangat mudah baginya untuk dijalani saat dia masih memakai seragam putih abu-abu. Apakah terlalu lama dia merasakan kenyamanan di persimpangan itu? 

Dunia dan Akhirat adalah dua hal yang dicobanya untuk mengimbangi. Tak ingin ada timbangan berat salah satunya. Tidak ingin hanya mengejar kehidupan dunia atau akhirat saja. Jiwanya ingin berjalan bersama keduanya. Tidak ingin memilih. Jangan dipaksa untuk memilih. Jiwa itu bukan robot yang tak berperasaan. Persimpangan ini terasa begitu berat saat dijalani sendiri. 

Seorang pemimpi besar yang berjalan di atas padang pasir. Tak tahu arah kemana menuju. Yang dia tahu hanyalah kehidupan ini dan Tuhannya. Berusaha mewujudukan impian-impian masa kecilnya di kehidupan ini dengan tetap bersama sang penciptanya. Tetapi, itu semakin sulit dan berat baginya. Hilang kepercayaan terhadap sahabat, dan rendah diri terhadap dirinya sendiri. Dia berada di persimpangan. Dia ingin pula menjadi kekasih Tuhannya, tapi dia juga ingin mewujudkan impian-impian besarnya. Dia memiliki kedua sahabat itu. Sahabat yang ingin menjadi kekasih Tuhannya dan sahabat yang ingin mewujudkan impian-impian besarnya. 

Dia rindu dengan sahabat-sahabatnya yang dahulu. Yang bersemangat untuk keduanya. Yang selalu mengingatkan untuk keduanya. Yang berjalan bersama untuk keduanya. Dia merindukan sosok yang bisa diajak untuk berdiskusi soal keduanya. Tapi, semua itu tak nyata, semua itu tak ada. Sekarang hanyalah tinggal kenangan. Sekarang aku mengerti, kenapa lagu-lagu yang bertemakan keangan masa lalu selalu bernada sendu, sedih dan menangis. Ketika semua hal baik yang dikerjakan bersama-sama itu berlalu dan tinggalah menjadi sebuah memori dalam ingatanmu sendiri, bukan ingatan mereka yang kau ingat, memang sangat menyakitkan dan mendidihkan hati.

Inilah saatnya pemimpi itu berjalan sendiri di atas kakinya. Tanpa kawan - kawannya seperti dahulu. Sekarang dia sendiri yang harus membawa mimpi besar mereka. Dia sedang mengumpulkan kepercayaan dirinya yang memudar, kembali fokus pada apa yang dia putuskan sebagai mimpi besarnya itu.  Persimpangan yang melemahkannya, sekarang dia mencoba keluar perlahan darinya, dia mulai mengerti apa yang perlu dan tak perlu dia lakukan. 

Semoga Tuhan memeluk mimpi-mimpinya dan segera menurunkan mimpi itu kepadanya.




Sabtu, 25 April 2015

Kata dan Doa

Setiap kata terucap adalah doa
Malam adalah tempat aku mengucap kata
Kata demi kata yang tak kurangkai indah
Yang tak mungkin kukatakan padamu meski hanya satu kata
Hingga kau jadikan aku halal bagimu

Hanya kepada-Nya aku berucap
Tapi mengucap untaian kata itu kepada-Nya 
Sungguh menguras emosi yang tak pernah terkatakan
Menguras air mata yang tak pernah jatuh bulirannya

Setiap kata terucap adalah doa
Malam gelap berkawan sunyi dan berselimutkan hawa dingin 
Kupanjatkan doaku pada-Nya tentangmu
Calon Imamku

Pahami Rasa

Sulit menjelaskan rasa yang tak dirasakan orang lain. Apalagi untuk memahamkan mereka terhadap perasaan kita. Memang mudah untuk mengatakan segala teori tentang pengendalian rasa ataupun mengatur rasa itu sendiri. Tapi, pernahkah kalian berpikir? Saat kalian mengatakan itu, apakah kalian juga akan melakukan hal yang sama seperti yang kalian katakan? Sedangkan, tak ada jaminan untuk kita bisa mengingat semua apa yang telah kita kerjakan apalagi segala sesuatu yang kita katakan.

Perlu berhati-hati saat mengeluarkan nasihat, jika memang itu benar sampaikanlah dengan perlahan dan menunggu waktu yang tepat. Ada kalanya, manusia memang membutuhkan waktu untuk berpikir dan merenung. Tanpa kita sadari, nasihat itu justru bukannya masuk ke dalam logika pikiran tapi hanya dianggap sebagai angin lalu. Hingga akhirnya, orang yang dinasihati pun merasa benar - benar sendiri, haru sendiri, dan semakin menarik diri, sebab dia berpikir bahwa tak akan ada yang mengerti perasaannya, bagaimana mudahnya hatinya tersakiti, menangis sendiri, hingga akhirnya dia menyalahkan dirinya sendiri. Semua yang terjadi pada dirinya adalah kesalahannya sendiri sebagai pelarian karena tak ingin menyalahkan manusia lain.

Hal - hal kecil yang dianggap biasa dan remeh oleh orang kebanyakan, ternyata menjadi bom waktu untuk orang lain yang siap meledak kapanpun pemicunya dilepas. Jadi, hati - hatilah dengan perasaan orang lain. Apalagi, perasaan seorang wanita yang memang perasaannya jauh lebih dominan daripada logika berpikirnya. Mereka bertahan hidup karena perasaan mereka. Mempertahankan rasa bahaga, menepis rasa sedih dan kecewa, mengubah rasa pahit menjadi madu. Hatinya mengolah berbagai perasaan. Dimana dia sendiri tidak mengerti sampai kapan hatinya dapat bertahan. 

Rasa yang datang pada hati memang sulit untuk ditebak, campur-campur melebihi es campur. Dia selalu berusaha untuk mengolah hatinya, akan tetapi orang tak perlu tahu akan hal itu. Dan manusia lain tak berhak menyalahkannya, sebab dia tidak pernah tahu hal appa saja yang telah dia alami dan rasakan selama hidupnya. Kejadian apa saja yang telah mengantarnya pada titik saat ini dimana dia bertemu kalian.